♥ Selamat Datang! Blog Ini Menyajikan Pengaruh-Pengaruh Pertambahan Penduduk Di Indonesia♥
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Aspek Manusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aspek Manusi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2016

PERLUNYA REKONTRUKSI DAN MODERNISASI PENDIDIKAN UNTUK KUALITAS PENDUDUK YANG LEBIH BAIK


Indonesia merupakan negara berpenduduk terbanyak ke 4 di dunia, dengan total populasi lebih dari 250 juta jiwa. Negara yang memiliki ratusan ragam etnis, suku dan budaya ini, di dominasi oleh dua suku terbesar. Dua suku terbesar ini adalah Jawa dengan sumbangsih 41% dari total populasi dan suku Sunda dengan sumbangsih 15% dari total populasi. Kedua suku ini berasal dari pulau Jawa, pulau dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia yang menghimpun 60% dari total populasi di Indonesia. Hal ini menjadi indikator bahwa konsentrasi populasi terpenting berada di wilayah barat Indonesia, yakni pulau Jawa.
Pertumbuhan penduduk di Indonesia dengan LPP (Laju Pertumbuhan Penduduk) 1.3 masih tergolong menghawatirkan, apalagi jika tidak dibarengi dengan kualitas penduduk yang sebanding, karena pertumbuhan penduduk menjadi salah satu indikator pengukur suatu negara dikatakan sebagai negara miskin, berkembang atau negara maju.
Masalah kependudukan memang bukan terbatas hanya pada kuantitas tetapi juga kualitas, masalah kualitas penduduk adalah dalam hal mutu kehidupan dan kemampuan sumber daya manusia itu sendiri. Di Indonesia, kualitas penduduk masih menjadi masalah yang serius, hal ini dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kualitas sumber daya manusia serta rendahnya taraf kesehatan masyarakat sehingga semua ini berpengaruh pada rendahnya pendapatan per kapita masyarakatnya.
Berikut adalah hal-hal yang mempengaruhi menurunnya kualitas penduduk di Indonesia :
  1. Pendidikan
  2. Kesehatan
  3. Pendapatan per Kapita
Dari hal-hal di atas, dapat dilihat bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang mampu mempengaruhi menurunnya kualitas penduduk. Karena berkembang atau majunya suatu negara, tidak akan terlepas dari peranan penting pendidikan. Pendidikan merupakan komponen yang sangat penting bagi penduduk, tanpa adanya pendidikan, suatu daerah atau negara tersebut tidak akan berkembang sekalipun didukung dengan sumber daya alam yang melimpah.
Oleh karena itu, diperlukannya rekonstruksi dan modernisasi sistem yang bagus untuk menata proses pendidikan dan mengevaluasi kinerja pendidikan yang sedang berlangsung. Rekonstruksi dan modernisasi pendidikan bertujuan supaya pendidikan mempunya relevansi nyata dengan kualitas kehidupan masyarakat, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tanpa memandang latar belakang dan kondisi sosial ekonomi masyarakat di dalamnya.
Kondisi penduduk Indonesia sekarang ini sudah berkembang dengan pesat, perkembangan ini dipicu oleh globalisasi serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi pada kehidupan sehari-hari. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memaksa dunia pendidikan untuk melakukan transformasi.
Transformasi yang dimaksudkan adalah agar pendidikan memberikan kontribusi pada pemberantasan buta aksara, kemiskinan dan kesehatan. Hampir di semua negara, transformasi pendidikan dilakukan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas masyarakat dalam sebuah konstruksi kemasyarakatan yang demokratis. Dengan kata lain, pendidikan merupakan komponen terpenting dalam upaya penguatan peradaban umat manusia serta peningkatan kualitas kehidupannya.
Pendidikan merupakan komponen yang sangat penting bagi peradaban manusia setiap negara di dunia. Ini dikarenakan pendidikan merupakan elemen yang mempunyai tingkat kesensitifan sangat tinggi terhadap perubahan perkembangan zaman. Di Indonesia, pendidikan mengalami beberapa kali perkembangan sejak zaman kerajaan Hindu Budha sampai zaman pasca reformasi sekarang ini. Dimulai dari perkembangan sastra yang dibawa oleh Hindu Budha, pesantren pada mas perkembangan Islam, hingga sekolah yang dibawa pada masa kolonial Belanda hingga sekarang ini.
Oleh karena itu dibutuhkan suatu pembaharuan paradigma pendidikan berupa rekonstruksi dan modernisasi pendidikan, baik itu dari para pembuat kebijakan, para pelaksana dari tingkat dinas provinsi maupun kabupaten, sampai pada para pelaksana pendidikan di lapangan.
Proses rekonstruksi dan modernisasi pendidikan ini tidak bisa dilakukan dan dikerjakan secara tiba-tiba, karena rekonstruksi merupakan sebuah proses yang berkelanjutan dalam rangka membangun kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Published: By: @mas_wah - 21.38

Jumat, 17 Juni 2016

PERLUNYA TAKAR ULANG KENDALI KEPENDUDUKAN


Banyak anak, banyak rezeki. Presepsi yang mulai dikikis habis oleh pemerintah lewat program BKKBN agar tidak mendorong lahirnya ledakan penduduk. Akibatnya, banyaknya jumlah penduduk akan menjadi beban tersendiri bagi pemerintah, utamanya terkait dengan pelaksanaan program pembangunan di berbagai sektor.
Beberapa saat yang lalu, saya sempat bercengkerama dengan kakek saya  yang sudah berumur 87 tahun. Beliau bercerita bagaimana kehidupannya dulu hingga mempunyai 10 anak. Menariknya, meski dengan jumlah anak yang banyak, keluarga kekek tidak membutuhkan pembantu rumah tangga.
Saya paham betul bagaimana kehidupan keluarga yang beliau jalani, menggembala kambing, bercocok tanam dan menggarap sawah. Meski tergolong hidup sederhana, tetapi kakek memiliki anak-anak yang tergolong sukses, mulai dari pengusaha konveksi, pegawai negeri, prajurit TNI, hingga pengusaha warung makan.
Hampir 2 jam kita asyik bercerita tentang jumlah anak dan kehidupan beliau dulu, ada beberapa hal yang membuat saya kaget, seketika saya bertanya tentang motivasi apa yang mendorong beliau untuk memiliki banyak anak, kakek saya pun menjawab “yo soale akeh anak akeh rejekine” jawabnya dalam Bahasa Jawa.
Cerita di atas adalah sekelumit cerita dari keluarga besar saya. Dan ajaibnya lagi, banyak keluarga yang memiliki 10 anak lebih selain kakek saya, artinya pemikiran “banyak anak banyak rezeki ” dahulu cukup melekat di benak masyarakat.
Selain cerita unik dari kakek, saya teringat juga dengan cerita keluarga halilintar yang sempat menggemparkan publik nusantara dengan portofolio keluarga yang mempunyai 11 anak atau yang sering disebut dengan “kesebelasan halilintar”.
Terakhir kali saya mendengar berita bahwa keluarga ini menjalani lawatan ke lebih dari 100 negara di 5 benua telah mereka singgahi. Mulai dari Asia hingga Amerika Serikat. Sembari asyiknya berkeliling dunia, keluarga ini seakan menyampaikan pesan kepada publik, bahwasanya tidak ada yang sulit ketika memiliki banyak anak, baik untuk urusan ekonomi maupun urusan kekeluargaan.
Potret keluarga halilintar saat ini memang merupakan fenomena langka. Kenyataannya banyak fenomenanya serupa yang justru menambah beban bagi keluarga, terutama urusan ekonomi. Kondisi demikian yang akan terus diperangi oleh pemerintah lewat program dari BKKBN. Sebab banyak anak akan menambah banyak jumlah penduduk yang akan berdampak pada besarnya beban permasalahan Negara, baik sektor ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, maupun kesejahteraan.
Pada Negara maju dan berkembang, memilih mengatur angka kelahiran penduduknya dengan membatasi jumlah anak di setiap keluarga. Bahkan pada beberapa Negara, melahirkan anak lebih dari 1 dianggap sebagai bentuk pelanggar aturan, dan patut mendapat sanksi.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia, yang pada tahun 2010 menempati urutan ke-4 penduduk terbanyak di dunia, setelah China, India, dan Amerika. Sesuai hasil sensus 2010, penduduk Indonesia mencapai angka 237.641.326 jiwa, dan pada tahun 2015 diperkirakan jumlah penduduk Indonesia mencapai lebih dari 250 juta jiwa.
Peristiwa kelahiran pada suatu daerah menyebabkan perubahan jumlah dan komposisi penduduk, sedangkan kematian dapat mengurangi jumlah penduduk pada suatu daerah. Selain penyebab langsung seperti kelahiran, kematian, dan migrasi. Ada pula penyebab tidak langsung seperti, keadaan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, politik, dan lain sebagainya.
Masih ingatkah dengan isu bonus demografi, ya.. bonus demografi yang diperkirakan pada tahun 2020 s/d 2030. Di mana penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia muda dan usia lanjut, jumlah usia produktif (angkatan kerja) yang berusia kisaran 15-64 tahun mencapai 70%, artinya usia produktif sekitar 180 juta, sementara usia non produktif sekitar 60 juta.
Kependudukan masih menjadi ancaman serius, perlunya takar ulang kondisi kependudukan  saat ini melalui beberapa faktor di bawah ini:
  1. Kualitas penduduk
  2. Kuantitas/jumlah penduduk
  3. Persebaran penduduk
Kualitas penduduk yang rendah menimbulkan berbagai dampak seperti, kualitas SDM/tenaga kerja yang rendah, daya kompetisi yang lemah, angka pengangguran tinggi, dan masalah kemiskinan yang semakin kompleks.
Selain itu, kuantitas penduduk yang cukup besar seharusnya bisa memberikan dampak positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, Amerika dan China contohnya. Akan tetapi, kuantitas penduduk yang besar juga bisa menjadi beban jika tidak diimbangi oleh kualitas penduduk itu sendiri.

Published: By: @mas_wah - 05.12

PENTINGNYA PERILAKU HIDUP BERWAWASAN KEPENDUDUKAN


Indonesia saat ini dihadapkan dengan masalah yang sangat serius, mulai jumlah penduduk, lingkungan hidup, ekonomi, tingkah laku dan budaya masyarakat. Dalam upaya menumbuhkan mentalitas masyarakat yang peduli terhadap keseimbangan lingkungan hidup dan kelestarian alam. Diperlukan sebuah tindakan yang nyata untuk merubah pola pikir masyarakat, salah satunya diperlukannya sebuah pendidikan tentang wawasan kepada masyarakat yang berorientasi kependudukan.
Wawasan kependudukan kepada masyarakat sebagai suatu proses pendidikan, yang ditekankan pada nilai-nilai kependudukan dan informasi masalah kependudukan dengan harapan mengubah sikap dan mental masyarakat kepada hal-hal yang positif dalam menanggulangi masalah kependudukan.
Seperti apa yang diuraikan oleh Sumaatmadja, “pendidikan kependudukan ditekankan terhadap informasi masalah kependudukan dengan tujuan mengubah sikap mental masyarakat ke arah yang lebih positif dalam menanggulangi masalah kependudukan (Sumaatmadja, 2001)”. Dikarenakan masalah kependudukan sangat berdampak terhadap keseimbangan lingkungan dan kelestarian alam, pemahaman terhadap wawasan kependudukan ini dinamai PHBK (Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan).
Pada tahun 2011 pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencanangkan program Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan atau PHBK, program tersebut memiliki 10 hal penting yang perlu diterapkan oleh setiap individu, 10 point tersebut adalah :
  1. Penundaan usia perkawinan, laki-laki minimal 25 tahun dan perempuan 20 tahun
  2. Memiliki 2 anak cukup
  3. Pengaturan jarak kelahiran
  4. Penggunaan alat kontrasepsi
  5. Usaha ekonomi keluarga
  6. Persalinan ditolong oleh tenaga medis
  7. Pelaporan setiap kelahiran, kematian dan perpindahan
  8. Keluarga ramah anak dan lingkungan
  9. Keluarga berkarakter
  10. Keluarga peduli pendidikan
Perilaku Hidup Berwawasan kependudukan merupakan upaya memberdayakan  anggota keluarga dan masyarakat agar peduli, mau dan mampu mengimplementasikan sikap dan perilaku tentang kehidupan berwawasan kependudukan, serta berperan aktif dalam gerakan Keluarga Berencana (KB).

Published: By: @mas_wah - 04.59

PENDUDUK BUKAN HANYA KUANTITAS TETAPI JUGA KUALITAS


Penduduk sesungguhnya merupakan subjek dan objek diciptakannya kebijakan dan program pembangunan.  Sebuah pembangunan dikatakan berhasil jika mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk/masyarakat, baik secara fisik maupun non fisik. Demikian pula dengan isu-isu kependudukan yang tak mungkin lepas dari perencanaan pembangunan.
Berdasarkan sensus penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 240,7 juta jiwa. Ini menjadikan Indonesia beberapa tahun terakhir menempati urutan ke-4 jumlah penduduk terbanyak dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Dari sumber yang sama, diketahui LPP (Laju Pertumbuhan Penduduk) Indonesia tahun 2012-2013 mencapai 1,3% dan 1,2% pada tahun 2013-2014, jumlah ini diperkirakan akan tetap menurut.
Dari data Laju Pertumbuhan Penduduk di atas, sebenarnya pengendalian kuantitas penduduk Indonesia berangsur membaik sejak tahun 2010.  Meskipun secara kuantitas sudah berangsur membaik, tetapi sejatinya secara kualitas masih sangat diperlukan banyak pembenahan.
Kualitas penduduk dapat dilihat dari beberapa variabel kehidupan:
1.    Hidup panjang yang sehat
2.    Akses terhadap ilmu pengetahuan
3.    Standar kehidupan yang layak
Ketiga poin di atas menjadi dasar pengukuran IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Saat ini, Indonesia masuk dalam kategori Medium Human Development, berada pada peringkat 108, peringkat ini masih berada di atas Myanmar (150), Laos (139), Kamboja (136), Timor-Leste (128), Vietnam (121), dan Filipina (117). Sementara negara ASEAN yang mempunyai peringkat di atas Indonesia adalah Singapura (9), Brunei (30), Malaysia (62) dan Thailand (89).
Di Indonesia, tercatat terdapat sebanyak 3,6 Juta jiwa penduduk Indonesia yang buta aksara tahun 2013. Ini menunjukkan bahwa akses terhadap ilmu pengetahuan masih minim, belum lagi kasus anak-anak perempuan yang putus sekolah dan akhirnya nikah dini. Untuk meningkatkan kualitas penduduk, diperlukan sinergi dari berbagai pihak.
Sinergi yang diperlukan dalam memanfaatkan bonus demografi, Jatim contohnya, yang sudah menikmati bonus demografi sejak 2010 karena sukses program KB. Indonesia dipastikan menikmati manfaat bonus demografi jika sukses mengendalikan LPP sampai dengan tahun 2020.
Jika kondisi pengendalian LPP ini tetap ditingkatkan, maka bonus demografi bisa dimanfaatkan dengan baik. Dengan jumlah angkatan kerja yang lebih banyak, pertumbuhan ekonomi bisa lebih ditingkatkan.
Hendaknya pemerintah bukan hanya menjaga kestabilan kuantitas tetapi juga meningkatkan kualitas penduduk Indonesia.
Published: By: @mas_wah - 02.35

PROGRAM KB, SUDAHKAH MENJADI SOLUSI KENDALI KEPENDUDUKAN DI INDONESIA


Beberapa saat lalu, saya teringat berita tentang suatu kampung yang menjadi miniatur percepatan program KB, ya.. kampung ini dinamakan Kampung KB, bertempat di Desa Mojosari, Kepanjeng Kabupaten Malang.
Berkaca dari kampung kecil di atas, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah penduduk terbanyak urutan ke-4 di dunia. Ini merupakan sebuah tantangan, bagaimana mewujudkan cita-cita bangsa yang tertuang pada butir-butir Pancasila.
Saat ini, jumlah penduduk ASEAN mencapai 600 juta jiwa, dan Indonesia sebagai penyumbang angka penduduk terbanyak, yaitu sebesar 253 juta jiwa atau sekitar 30%. Sedangkan Malaysia hanya 30 juta jiwa. Jika jumlah penduduk terus meningkat dan tanpa didukung kualitas yang baik, maka dikhawatirkan akan menjadi musibah.
 Diperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan terus meningkat dari tahun ke tahun, meningkatnya penduduk Indonesia tidaklah diimbangi oleh lahan yang memadai. Akibatnya, lahan kosong dan lahan pertanian dialih fungsikan sebagai tempat tinggal atau perumahan, yang berdampak pada berkurangnya lahan pertanian. Sedangkan sektor pertanian merupakan variabel penting dalam berlangsungnya kehidupan suatu bangsa. Ketika lahan pertanian dialih fungsikan sebagai lahan pemukiman, maka akan mengganggu stabilitas ketahanan pangan, dampaknya kebutuhan pokok akan semakin mahal.
Hal ini merupakan masalah yang sangat kompleks, apabila pangkal masalahnya tidak secepatnya ditangani, maka tidak menutup kemungkinan akan berakibat pada hilangnya rasa sosial, dampaknya setiap orang hanya akan memikirkan kebutuhan untuk dirinya dan untuk keluarganya.
Dengan demikian, program Keluarga Berencana dapat menjadi salah satu solusi pemerintah dalam menangani masalah kependudukan dan sekaligus kestabilan ekonomi. Program yang berjalan semenjak tahun 70-an ini pernah meniti sukses di era kepemimpinan Presiden Soeharto dengan menekan angka fertilitas yang tinggi, dan mengurangi angka pertumbuhan penduduk dari 3% hingga di bawah 2% setiap tahunnya.
Program keluarga berencana secara umum bertujuan untuk mengurangi ledakan penduduk yang diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya, oleh karena itu peraturan tentang Keluarga Berencana harus mempunyai sanksi hukum yang tegas, agar program pengendalian penduduk bisa berjalan maksimal dan tidak hanya menjadi anjuran bagi keluarga di Indonesia.

Published: By: @mas_wah - 02.31

Kamis, 16 Juni 2016

BONUS DEMOGRAFI, PELUANG ATUKAH ANCAMAN

Bonus demografi, ini sudah menjadi pembicaraan hangat terlebih saat debat calon presiden 2014 lalu antara Jokowi dan Prabowo, materi yang disampaikan cukup menerik untuk di ikuti. Lantas apa itu bonus demografi?
Belum lama ini saya mengutip dari salah satu media online, bahwa kepala BKKBN Surya Chandra S. dalam sebuah kesempatan awal tahun lalu menjelaskan, bonus demografi adalah suatu kondisi di mana jumlah penduduk usia produktif yakni usia 15-64 tahun (angkatan kerja) pada suatu daerah atau negara lebih besar dari pada penduduk usia non produktif, yakni usia muda kurang dari 14 tahun dan usia lanjut lebih dari 65 tahun .
Artinya, porsi penduduk dengan usia produktif (angkatan kerja) lebih besar dari pada yang non produktif. Dengan demikian, tingkat ketergantungan usia non produktif kepada penduduk yang produktif menjadi sangat rendah. Dampak baiknya, kondisi ini bisa memacu keadaan ekonomi dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
Selanjutnya bisa kita simpulkan bersama, bahwa bonus demografi adalah ledakan penduduk dengan usia produktif (angkatan kerja) pada suatu daerah atau negara.
Di Indonesia, ada 9 provinsi yang diperkirakan akan mendapatkan bonus demografi terlama, mulai tahun 2010 sampai dengan tahun 2035. 9 provinsi tersebut adalah Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, DIY, Jawa Timur, Banten, Bali, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara.
Dari beberapa provinsi di atas, Jawa Timur dinyatakan sukses program KB yang menyebabkan angka LPP (Laju Pertumbuhan Penduduk) semakin melambat sejak tahun 2010. Sementara pertumbuhan ekonomi terus meningkat dan angka kemiskinan semakin berkurang. Saya sangat apresiasi terhadap Jawa Timur, karena selain cerdik melihat peluang tentang bonus demografi juga didukung oleh program tepat sasaran oleh pemerintah setempat.
Di Jawa Timur, jumlah angkatan kerja melebihi jumlah penduduk non produktif. Dengan kondisi ini, beban tanggungan dari usia non produktif pun berkurang. Dampaknya, provinsi Jawa Timur sukses di berbagai sektor, mulai dari pangan, sosial, pendidikan, kesehatan hingga kesejahteraan masyarakat. Hal ini dinilai sebagai peluang bonus demografi di provinsi Jawa Timur.
Di Indonesia, laju pertumbuhan penduduk masih tergolong menghawatirkan. LPP Indonesia masih 1,49% ini masih setara dengan Negara Singapura dengan pertumbuhan penduduk sekitar 4,5 juta setiap tahunnya. Terbilang menghawatirkan karena cukup tinggi kuantitas dan masih rendahnya kualitas.
Bonus demografi itu hanya terjadi sekali dalam perjalanan sejarah suatu bangsa, harapannya bonus demografi haruslah bisa dimaksimalkan menjadi sebuah peluang, supaya kondisi kemiskinan terus menurun. Seperti kondisi di Provinsi Jawa Timur, yang mana kelompok usia produktif berkembang semakin berkualitas hingga mampu meningkatkan stabilitas ekonomi dan berkurangnya angka kemiskinan di Indonesia.

Published: By: @mas_wah - 12.02
 

Ads

Wahyu E. Saputra